Sabtu, 17 Desember 2011

RESENSI KITAB
KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

‘’Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Qiro’atul Kutub’’

Disusun Oleh:
SOMHADI
NPM : 221240108037
SEMESTER VII


FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS WIRALODRA INDRAMAYU
Jl.Ir.H.Djuanda km.3 telp. (0234 275946) Indramayu 45213

KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

Judul Buku      : Bidayatul Hidayah
Penulis            : Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad   
 Ath Thusi (Abu Hamid Muhammad al-Ghazali)
Penerbit           : Karya Toha Putra. Semarang.

Kitab "Bidayatul Hidayah" merupakan kitab tasawuf karya ulama besar Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. Kitab "Bidayatul Hidayah" banyak disebut-sebut sebagai Mukadimah Ihya Ulumuddin.
Sekilas Tentang Penulis
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201)
Tentang Kitab
Kitab Bidayatul Hidayah merupakan kitab yang menjelaskan tentang Ilmu Tasawuf dengan panjang lebar. Kitab ini membahas proses awal seorang hamba mendapatkan hidayah dari Allah Ta'ala, dimana sang hamba sangat membutuhkan pertolongan dan bimbingan dari-Nya. Juga menjelaskan seputar halangan (pasif) maupun rintangan (aktif) yang tersebar di sekitarnya, yaitu ketika sang hamba berusaha untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, melalui tata cara dan adab yang benar.
Kitab Bidayatul Hidayah secara garis besar berisi tiga bagian. Yakni bagian tentang ada-adab ketaatan (adab bangun tidur, adab masuk kamar mandi, adab berwudlu, adab mandi, adab tayammum, adab pergi ke masjid, adab masuk masjid, dan lain lain), bagian tentang meninggalkan maksiat (menjaga mata, menjaga telinga, menjaga lisan, menjaga perut, menjaga farji, menjaga kedua tangan, menjaga kedua kaki, ma`siat hati, sombong), dan bagian tentang berhubungan dengan manusia, dengan Sang Maha Pencipta dan dengan sesama makhluk (ahlak seorang anak dengan kedua orang tua dan syarat-syarat berteman).
Disini sengaja kami cantumkan sebagian mukaddimah kitab dan sebagian  ringkasan isi kitab agar menjadi daya tarik bagi para pembaca.
Penulis berkata : Ketahuilah, dengan kitab ini aku ingin menunjukkan kepadamu permulaan-permulaan hidayah, agar engkau melatih hawa nafsumu dengan mengamalkan seluruh isinya, agar mengukur kebenaran pengakuanmu dengan mengistiqamahkan kandungan dan tuntunannya, dan agar menguji hatimu di dalam mengimplementasikan seluruh ilmunya. Jika engkau mendapat­kan hatimu tertarik kepada permulaan hidayah yang akan aku jelaskan dalam kitab ini, atau engkau mendapatkan motivasi yang tinggi karena membacanya dan hawa nafsumu tunduk serta menerimanya, maka bergegaslah engkau untuk mendaki bukit­-bukit hidayah, agar engkau segera mencapai puncaknya. Menyelamlah di dalam berbagai lautan ilmu agar engkau menemukan berbagai rahasianya. Namun apabila engkau mendapatkan hatimu menunda-nunda di dalam mengamalkan isinya, padahal ia berkali-kali selalu mendengar ajakan untuk berbuat kebaikan, maka ketahuilah bahwa nafsu yang mengajak menuntut ilmu tersebut, adalah nafsu jelek yang mengajak menuntut ilmu hanya demi memuaskan kepentingan syahwat belaka, dan semangat yang telah ia tampakkan hanyalah demi menuruti bisikan setan yang terkutuk saja. Berhati-hatilah, karena pada akhirnya ia akan menjeratmu dengan tali tipuannya, lalu ia akan menjerumuskan dirimu ke dalam jurang kerugian. Sadarlah bahwa dia telah bermaksud menawarkan kepadamu keburukan dalam merk dan label kebaikan, dan sedang mem­promosikan kesalahan dalam tampilan kebenaran. Semua itu ia lakukan dengan gigih kepadamu agar ia mampu menipumu tanpa engkau sadar, sehingga ia dapat memasukkan dirimu ke dalam golongan orang-orang yang merugi sementara engkau merasa beruntung.
Dalam bab adab seorang murid kepada gurunya, Imam Ghozali menyatakan : bahwasanya seorang murid tidak boleh su'udzon kepada gurunya seperti kisah Nabi Musa saat berguru kepada Nabi Khidir yang termaktub dalam surat Al-Kahfi
Menurut al-Ghazali, jika hati kita condong dan ingin mengamalkan apa-apa yang ada di buku ini, maka berarti kita termasuk seorang hamba yang disinari oleh Allah dengan cahaya iman di dalam hati.