RESENSI KITAB
“KITAB BIDAYATUL HIDAYAH”
‘’Diajukan
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Qiro’atul Kutub’’
Disusun
Oleh:
SOMHADI
NPM : 221240108037
SEMESTER VII
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
WIRALODRA INDRAMAYU
Jl.Ir.H.Djuanda
km.3 telp. (0234 275946) Indramayu 45213
KITAB BIDAYATUL HIDAYAH
Judul Buku : Bidayatul Hidayah
Penulis :
Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad
Ath Thusi (Abu Hamid Muhammad al-Ghazali)
Penerbit :
Karya Toha Putra. Semarang.
Kitab "Bidayatul Hidayah" merupakan kitab
tasawuf karya ulama besar Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. Kitab "Bidayatul
Hidayah" banyak disebut-sebut sebagai Mukadimah Ihya Ulumuddin.
Sekilas Tentang Penulis
Beliau bernama Muhammad
bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz
Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy
Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam
Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah
Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam
Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al
Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi
Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu
Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan
nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).
Ayah beliau adalah
seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di
kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada
temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal
tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang
telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya,
dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka
temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan
yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat
orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah
oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian.
Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan
kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu.
Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya
melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian
mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami
menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya
karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah
6/193-194).
Beliau pun bercerita,
bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil
pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling
mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah
semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis
dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah
nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak
yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah
mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang
faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah
nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).
Imam Al Ghazali memulai
belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad
Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu
dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian
pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah
6/195).
Beliau mendatangi kota
Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan.
Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih
khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami
perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya.
Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz
Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy
Syafi’iyah 6/191).
Setelah Imam Haramain
meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena
majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat
kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya
menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke
sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di
Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau
berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi
Akhir kehidupan beliau
dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya.
Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut
ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih
Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai
semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak
memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi
menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat,
menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid
berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu
beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan
berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian
beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit
menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam
Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada
Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy
Syafi’iyah 6/201)
Tentang Kitab
Kitab Bidayatul Hidayah merupakan kitab yang menjelaskan
tentang Ilmu Tasawuf dengan panjang lebar. Kitab ini membahas
proses awal seorang hamba mendapatkan hidayah dari Allah Ta'ala, dimana sang
hamba sangat membutuhkan pertolongan dan bimbingan dari-Nya. Juga menjelaskan
seputar halangan (pasif) maupun rintangan (aktif) yang tersebar di sekitarnya,
yaitu ketika sang hamba berusaha untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha
Pencipta, melalui tata cara dan adab yang benar.
Kitab Bidayatul Hidayah
secara garis besar berisi tiga bagian. Yakni bagian tentang ada-adab ketaatan (adab bangun tidur, adab masuk kamar mandi, adab berwudlu, adab
mandi, adab tayammum, adab pergi ke masjid, adab masuk masjid, dan lain lain), bagian tentang meninggalkan maksiat (menjaga
mata, menjaga telinga, menjaga lisan, menjaga perut, menjaga farji, menjaga
kedua tangan, menjaga kedua kaki, ma`siat hati, sombong), dan bagian tentang
berhubungan dengan manusia, dengan Sang Maha Pencipta dan
dengan sesama makhluk (ahlak seorang anak dengan kedua orang tua dan syarat-syarat berteman).
Disini sengaja kami
cantumkan sebagian mukaddimah kitab dan
sebagian ringkasan isi kitab agar
menjadi daya tarik bagi para pembaca.
Penulis
berkata : Ketahuilah, dengan kitab ini aku ingin menunjukkan kepadamu
permulaan-permulaan hidayah, agar engkau melatih hawa nafsumu dengan
mengamalkan seluruh isinya, agar mengukur kebenaran pengakuanmu dengan
mengistiqamahkan kandungan dan tuntunannya, dan agar menguji hatimu di dalam
mengimplementasikan seluruh ilmunya. Jika engkau mendapatkan hatimu tertarik
kepada permulaan hidayah yang akan aku jelaskan dalam kitab ini, atau engkau
mendapatkan motivasi yang tinggi karena membacanya dan hawa nafsumu tunduk
serta menerimanya, maka bergegaslah engkau untuk mendaki bukit-bukit hidayah,
agar engkau segera mencapai puncaknya. Menyelamlah di dalam berbagai lautan
ilmu agar engkau menemukan berbagai rahasianya. Namun apabila engkau
mendapatkan hatimu menunda-nunda di dalam mengamalkan isinya, padahal ia
berkali-kali selalu mendengar ajakan untuk berbuat kebaikan, maka ketahuilah
bahwa nafsu yang mengajak menuntut ilmu tersebut, adalah nafsu jelek yang
mengajak menuntut ilmu hanya demi memuaskan kepentingan syahwat belaka, dan
semangat yang telah ia tampakkan hanyalah demi menuruti bisikan setan yang
terkutuk saja. Berhati-hatilah, karena pada akhirnya ia akan menjeratmu dengan
tali tipuannya, lalu ia akan menjerumuskan dirimu ke dalam jurang kerugian.
Sadarlah bahwa dia telah bermaksud menawarkan kepadamu keburukan dalam merk dan
label kebaikan, dan sedang mempromosikan kesalahan dalam tampilan kebenaran.
Semua itu ia lakukan dengan gigih kepadamu agar ia mampu menipumu tanpa engkau
sadar, sehingga ia dapat memasukkan dirimu ke dalam golongan orang-orang yang
merugi sementara engkau merasa beruntung.
Dalam bab adab seorang murid kepada
gurunya, Imam Ghozali menyatakan : bahwasanya seorang murid tidak boleh
su'udzon kepada gurunya seperti kisah Nabi Musa saat berguru kepada Nabi Khidir
yang termaktub dalam surat Al-Kahfi
Menurut al-Ghazali,
jika hati kita condong dan ingin mengamalkan apa-apa yang ada di buku ini, maka
berarti kita termasuk seorang hamba yang disinari oleh Allah dengan cahaya iman
di dalam hati.
